RSS

3.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 Panduan Pertanyaan untuk membuat Koneksi Antar materi:

·Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?

  Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid? 

·Adakah materi dalam modul lain/paket modul lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada. 

· Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?

 

Nama CGP : Atik Suparyati,S.Kom

Instansi : SMK N 1 Gesi

 


Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Setiap sekolah pasti memiliki sumber daya yang dapat dimaksimalkan penggunaanya dengan tujuan untuk tercapainya keberhasilan dalam sebuah program sekolah yang berdampak pada murid.

 Program sekolah yang berdampak pada murid merupakan program yang memaksimalkan penggunaan sumber daya di sekolah untuk mengembangkan potensi siswa. Program ini harus dikelola dengan baik mulai dari tahapan perencanaan program, pelaksanaan program dan evaluasinya.

Ciri-ciri program sekolah yang berdampak pada murid :

1.      Melibatkan murid secara aktif

2.      Menimbulkan efek positif pada murid

3.      Menggunakan sumber daya sekolah untuk mendukungnya

 Perencanaan program adalah langkah awal yang harus ditempuh sebelum menjalankan sebuah program. Tujuannya, agar program tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan harapan.

 Dalam rangka mendukung keterlaksanaan program, perlu adanya kerjasama oleh semua pihak. Di sinilah tahapan BAGJA dapat diterapkan. BAGJA adalah sebuah tahapan yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan asset yang dimiliki.

 

 

MELR (Monitoring,Evaluation,Learningand Reporting)

Monitoring

Adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengawasan dan pengendalian kegiatan yang dilaksanakan, untuk umpan balik pelaksanaan kegiatan yang sedang berjalan. Pengawasan dilakukan dengan melihat langsung pelaksanaan kegiatan. Tujuannya, untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan dengan keberhasilan program.

 

Evaluation

Evaluasi merupakan proses pengukuran hasil yang dicapai dibandingkan sasaran yang telah ditentukan sebagai bahan penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan

Prinsip evaluasi:

·                     Menyeluruh

·                     Berkesinambungan

·                     Objektif

·                     Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai penghargaan bagi yang berhasil dan merupakan pendorong bagi yang belum berhasil

 Cara melakukan evaluasi yaitu dalam bentuk kuantitatif sesuai dengan monitoring yang dilakukan

Teknik evaluasi antara lain:

·                     Observasi langsung di sekolah

·                     Isian instrument pengamatan

·                     Wawancara

·                     Peran serta

 

Learning

Dr Roger Greenaway seoarang ahli di bidang pelatihan guru dan sebagai fasilitator merancang kerangka kerja pembelajaran (Learning) melalui empat tingkat model.

Keempat F adalah:

·                     Fact (Fakta ): Catatan objektif tentang apa yang terjadi

·                     Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi

·                     Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut

·                     Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa depan

 

Reporting

Reporting atau laporan adalah media bagi pimpinan untuk menginformasikan atau memberikan masukan untuk setiap pengambilan keputusan yang diambilnya. Lapran yang dibuat harus akurat, lengkap, dan objektif. 

Laporan merupakan dokumen yang berupa produk akhir dari suatu kegiatan.

MANAJEMEN RISIKO

Risiko merupakan sesuatu yang memiliki dampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. Beberapa tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:

·                Risiko Strategis, merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan

·                Risiko Keuangan, merupakan risiko yang mungkinakan berakibat berkurangnya aset

·                Risiko operasional, merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen

·                Risiko pemenuhan, merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hokum dan peraturan yang berlaku

·                Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Prince watercoper, 2003)

 

Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

·                     identifikasi jenis risiko,

·                     pengukuran risiko,

·                     melakukan strategi dalam pengendalian risiko

·                     melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan

Hasil pemetaan sekolah dijadikan dasar untuk melihat aset-aset atau kelebihan sekolah. Sumber daya sekolah bisa dimanfaatkan untuk membuat program yang berdampak pada murid. Dengan demikian, sekolah telah menjalankan inkuiri apresiatif dengan memaksimalkan kekuatan sekolah dengan membuat program melalui langkah BAGJA.

 

Kaitan Modul 3.3 (Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid) dengan Modul Sebelumnya

 

 

 

Kaitan Dengan Modul 1.1 (Filodofi KHD)

Program sekolah yang berdampak pada murid dapat mendukung terwujudnya merdeka belajar dan memfasilitasi pengembangan potensi murid agar tumbuh kembangnya maksimal sesuai kodrat alam dan kodrat jaman.

 

Kaitan Dengan Modul 1.2 (Nilai dan Peran Guru Penggerak)

Visi dan peran guru penggerak mendukung dalam menciptakan perencanaan program yang berdampak pada murid.

 

Kaitan Dengan Modul 1.3 (Visi Guru Penggerak)

Program sekolah yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan pendekatan inkuiri apresiatif melalui langkah BAGJA. Tahapan BAGJA mengandung pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis aset.

 

Kaitan Dengan Modul 1.4 (Budaya Positif)

Membiasakan komunikasi dua arah dan nilai-nilai Pendidikan karakter untuk mendukung terlaksananya program sekolah yang berdampak pada murid.

 

Kaitan Dengan Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi)

Program yang dibuat disesuaikan dengan minat belajar dan profil siswa yang beragam.

 

Kaitan Dengan Modul 2.2 (Pembelajaran Sosial Emosional)

Mengedepankan empati pada siswa dan memahami kondisinya.

 

Kaitan Dengan Modul 2.3 (Coaching)

Guru dapat menjadi coach yang mamandirikan siswa (coachee) dalam mengatasi masalahnya.

 

Kaitan Dengan Modul 3.1 (Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran)

Guru menjadi pengambilan keputusan yang bijaksana dan mengedepankan nilai kebaikan bersama dalam menjalankan program .

 

 

Kaitan Dengan Modul 3.2  (Pengelolaan Sumber Daya)

Program sekolah yang berdampak pada murid  bisa dilakukan dengan memaksimalkan sumber daya sekolah.

 

Kaitan dari semua materi dengan peran saya sebagai guru penggerak:

 

Materi yang saya dapat ini tentunya menambah wawasan saya sebagai guru agar berupaya turut mewujudkan merdeka belajar serta menuntun murid dalam mengoptimalkan minat dan bakatnya.

Materi yang saya dapatkan bisa membuat saya memahami cara memetakan aset sekolah, mengelola sumber daya, membuat program yang berpihak pada murid, mengambil keputusan yang bijak, menjadi coach bagi siswa, mendalami keterampilan sosial emosional dan memfasilitasi pembelajaran siswa sesuai keberagaman yang ada dalam diri mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 Judul Modul : Rancangan Aksi Nyata Mewujudkan Suasana Kelas yang Nyaman dan Menyenangkan

Nama Peserta : Atik Suparyati

Latar Belakang:

Untuk mewujudkan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk kegiatan pembelajaran tentu membutuhkan sentuhan dari penghuni kelas (murid) untuk mengelola lingkungan kelas sebagai aset fisik. Dengan lingkungan kelas yang disesuaikan sesuai dengan keinginan murid tentu akan menjadi pemicu kenyamanan murid selaku penghuninya.

Tujuan:

Menciptakan lingkungan kelas nyaman dan menyenangkan yang mendukung optimalnya proses pembelajaran berpihak pada murid.

Tolak Ukur:

1. Murid mampu menggali hal-hal yang disukai dan tidak dari lingkungan kelasnya

2. Murid mampu mengatur lingkungan kelas menjadi lebih menyenangkan untuk mendukung proses pembelajaran

3. Suasana kelas menjadi lebih nyaman

4. Proses pembelajaran menyenangkan dan berbihak pada murid

Linimasa Tindakan

1. Buat Pertanyaan

Minggu ke- 1

·         Menggali cita-cita dan harapan murid terhadap suasana/lingkungan kelas impian;

·         Melibatkan murid untuk menginventarisasi kekuatan dan potensi yang dimiliki.



2. Ambil Pelajaran

Minggu ke- 2

·  Meminta murid mengidentifikasi hal-hal yang disukai dan tidak disukai dari lingkungan kelasnya;

·   Meminta murid melihat contoh tata ruang kelas yang baik dan nyaman di media internet.

 


3. Gali Mimpi

Minggu ke- 2

·    Menanyakan pendapat kepada setiap murid tentang kondisi kelas yang menyenangkan bagi mereka;

·         Membuat rancangan pengaturan kelas



Jabarkan Rencana

Minggu ke- 3

·         Membuat capaian target yang realistis untuk setiap murid

·         Meminta murid merencanakan jadwal pengaturan ruang kelas

·         Membagi tugas murid dalam pengaturan lingkungan kelas.



5. Atur Eksekusi

Minggu ke- 4

·         Menyusun tim kerja

·         Menyepakati tenggang penyelesaian pekerjaan masing-masing tim



Dukungan yang Dibutuhkan

1. Alat kebersihan didapatkan melalui koordinasi dengan pihak sekolah (bagian sarpras). Alat kebersihan juga ditambah dengan gotong royong siswa

2. Memajang karya-karya terbaik dari hasil praktek siswa dan Uji kompetensi siswa di Rak Etalase.

3. Alat dan bahan praktek: Komputer,Printer,Design grafis,Kertas Poster-Poster untuk memperindah ruangan

Dukungan dari:

• Kepala Sekolah melalui komunikasi secara langsung.

• Rekan sejawat dalam komunitas praktisi melalui komunikasi intensif keterlibatan dalan proses pengaturan kelas.

Warga sekolah lainnya dengan cara komunikasi jika ada hal-hal penting lain yang dibutuhkan.

• Orang tua murid melalui komunikasi intensif untuk mendukung putra-putrinya mewujudkan suasana kelas impian.

• Murid selaku subjek pendidikan dengan cara menginformasikan pelaksanan kegiatan

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aksi Nyata Modul 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


 Portofolio dengan model 4F (Fact, Feelings, Findings, Future) ,Aksi Nyata Modul 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh Atik Suparyati

Peristiwa (Fact)

Latar Belakang

Adanya Pandemi berdampak kepada berbagai sektor di Dunia,terutama pada sektor pendidikan,hampir 2 tahun pembelajaran dilakukan dengan daring sehingga perubahan ini juga berdampak pada peserta didik kita,Pelaksanaan pembelajaran yang pelan-pelan dari terbatas menjadi 100% yang  dilaksanakan di SMK Negeri 1 Gesi masih menemui beberapa kendala, diantaranya kehadiran peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran daring yang  terlalu lama kemaren,hingga muncul istilah generasi rebahan, sehingga siswa memiliki kelonggaran dalam pembelajaran. Guru dalam memberikan pembelajaran mengalami kesulitan karena rendahnya semangat dan pengetahuan siswa mengenai materi pembelajaran. Keadaan tersebut berpengaruh pula pada tingkat kepercayaan diri siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga menjadi salah satu alasan untuk tidak masuk sekolah. Selain itu, tingkat pendidikan karakter siswa yang mulai bergeser semenjak adanya pembelajaran daring, sehingga berdampak pada sikap dan perilaku selama berada di sekolah ketika berinteraksi dengan siswa lain atau guru.Sebagai wali kelas

CGP Berkolaborasi dengan guru,wali kelas,dan guru BK dalam menggali informasi siswa

Alasan Melaksanakan Aksi

Berdasarkan latar belakang peristiwa di atas, jika di identifikasi maka merupakan dilema etika, sekolah harus memiliki pilihan dalam menangani siswa yang mengalami keadaan tersebut akibat terlalu lamanya pembelajaran daring, agar tidak terjadi learning loss. Alasan melaksanakan aksi nyata ini karena adanya learning loss yang terjadi pada siswa salah satunya dalam bentuk penurunan capaian belajar siswa. Selain itu pelaksanaan pembelajaran daring berdampak pada menurunnya tingkat percaya diri dan karakter siswa sehingga dengan keadaan tersebut CGP melaksanakan aksi nyata dalam mendampingi siswa agar terentaskan dari masalahnya. Sehingga diperlukan kemampuan dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam penanganan siswa yang mengalami keadaan tersebut.









Hasil Aksi Nyata

Hasil aksi nyata yang telah diterapkan oleh CGP yaitu adanya kesadaran diri yang dimiliki oleh siswa terhadap masalah yang dialaminya, sehingga CGP membuat sebuah keputusan bahwa siswa yang mengalami hal tersebut masih dapat mengikuti pembelajaran di sekolah dengan pantauan dan dukungan dari guru serta siswa agar siswa yang mengalami masalah tersebut memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Guru dalam memberikan pembelajaran harus memiliki inovasi agar siswa merasa tertarik mengikuti pembelajaran yang diberikan. Dukungan dari kepala sekolah dalam menangani siswa yang memiliki masalah rendahnya motivasi belajar merupakan hal yang sangat positif sehingga pengambilan keputusan yang diberikan tepat dalam menangani dan meningkatkan motivasi belajar siswa.



Perasaan (Feelings)

Setelah melaksanakan aksi nyata modul 3.1.a.10 mengenai Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya awalnya merasa kesulitan, karena siswa yang saya berikan layanan pendampingan sangat sulit ditemui, sehingga diperlukan home visit untuk bertemu dengan orang tua siswa. Dengan adanya kolaborasi antara guru BK, Wali kelas dan orang tua siswa maka permasalahan yang dialami oleh siswa dapat ditemukan jalan keluarnya. Sehingga saya merasa bahagia, karena dapat membantu menyadarkan siswa akan pentingnya belajar agar tidak terjadi learning loss, hal ini merupakan suatu tindakan pengambilan keputusan yang positif sebagai pemimpin pembelajaran agar siswa terus belajar menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMK


Pembelajaran (Findings)

Permasalahan pada setiap individu itu berbeda-beda, sehingga perlu adanya pemahaman dalam masalah yang dialami sehingga pengambilan keputusan yang akan kita lakukan berdampak positif. Pembelajaran yang dapat dilaksanakan setiap menghadapi sebuah dilema etika atau bujukan moral. Perlu adanya kolaborasi dan kerjasama pada semua pihak dalam menghadapi dilema, sehingga kita sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempertimbangkan hal-hal positif dan negatif yang berdampak pada perkembangan sekolah maupun siswa khususnya dalam pembelajaran.


Perubahan (Future)

 Kemampuan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan perubahan nyata yang ada dalam diri saya sebagai calon guru penggerak (CGP), maka saya akan selalu menerapkan kolaborasi dan kerjasama pada warga sekolah untuk menentuan sebuah pengambilan keputusan yang tepat dan berdampak positif. Selain itu, adanya motivasi dan optimis yang meningkat terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Perubahan lainnya yaitu, semakin meningkatnya dukungan dan kepercayaan dari sekolah dalam menghadapi penanganan permasalahan atau dilema etika yang telah CGP tangani, sehingga meningkatkan motivasi dan semangat menjadi agen perubahan sebagai pemimpin pembelajaran.

Harapan saya dengan langkah-langkah pengambilan keputusan yang saya laksanakan dapat menjadi acuan dalam mengahadapi dilema etika dan bujukan moral yang terjadi di sekolah.














  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koneksi Antar Materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

                                                   Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi

                               Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?



KHD berpandangan, seorang pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak, serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikan serta memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya.

Berdasarkan pandangan KHD terkait Pratap Triloka yang dikenal dengan semboyannya ing ngarso sung tuladha yang diartikan  sebagai seorang pemimpin dalam hal ini guru hendaknya mampu memberikan contoh/tauladan yang baik kepada muridnya, ing madya mangun karsa yang diartikan bahwa seorang pemimpin  mampu membangun karsa/kemauan atau pemberi semangat/motivasi,  dan Tut wuri Handayani yang artinya seorang pemimpin mampu memberikan dukungan, arahan, dan semangat kepada muridnya. Berdasarkan hal tersebut di atas guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat dan bijaksana serta berpihak kepada murid yang merupakan subyek dalam system pendidikan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?


Nilai-nilai positif yang tertanam kuat dalam diri kita penting untuk dipupuk karena keputusan-keputusan yang diambil oleh seseorang  akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tersebut. Dengan nilai-nilai yang dimilikinya seorang guru hendaknya menjadi rujukan atau teladan baik bagi murid maupun seluruh warga sekolah.

Dalam kesehariannya menjalankan tugas, tidak jarang seorang guru berada dalam posisi yang menuntutnya untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada pada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang tepat. Maka di sinilah nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong kita untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Dalam pengambilan keputusan yang terbaik bagi kepentingan murid, seorang guru akan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.


Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil


4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.   

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman

7. Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Sebagai seorang guru tentunya mengalami dan diperhadapkan dengan berbagai permasalahan dari waktu ke waktu yang menuntut dilakukannya pengambilan sebuah keputusan. Permasalahan dan situasi yang dihadapi perlu untuk dicermati dan dianalisis dengan seksama agar kita tidak terjebak pada

pengambilan suatu keputusan yang salah karena kurang mampu dalam menelaah situasi yang dihadapi secara jelas apakah termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Ketika dihadapkan dengan situasi dilema etika tentu adakalanya kita mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan keputusan tersebut. Kesulitan muncul bisa disebabkan karena berbagai faktor misalnya, karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat.

Dalam melaksanakan proses Pendidikan, seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.

Keterampilan coaching ini dapat membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri tidak sebatas pada murid, keterampilan cocaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh(mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS